Hukum
memberi ucapan selamat saat Idul Fitri kebanyakan ulama mengatakan
boleh atau mubah. Sebagian ulama, seperti ditegaskan oleh Mufti al-Azhar
menukil dari kitab al-Mawahib al-Ladunniyah karangan Qasthanani,
mengatakan bahwa ucapan selamat sekitar Id dan hari-hari besar tidak ada
dalil yang kuat. Hafidz Mundziri mengatakan hukumnya diperdebatkan para
ulama. Imam Baihaqi dalam kitab hadistnya membuat bab : Riwayat tentang
ucapan orang-orang satu sama lain pada hari Id, lalu beliau
mengumpulkan riwayat seputar ucapan selamat yang kebanyakan lemah,
tetapi secara keseluruhan dapat dijadikan landasan.
Imam
Suyuti juga menulis kitab berjudul Wushulil Amani bi Ushulit Tahani,
lalu beliau mengumpulkan riwayat-riwayat seputar ucapan-ucapan selamat
di hari-hari besar tertentu.
Beberapa riwayat cukup kuat
menyebutkan bahwa ucapan untuk hari Idul Fitri yang diucapkan masyarakat
pada zaman Sahabat dan Tabiin adalah “Taqabalallaahu minna wa minka”
atau “Taqabalallaahu minna wa minkum” seperti diriwayatkan oleh Jubair
bin Nafir ra. Riwayat ini menurut Ibnu Hajar cukup kuat. Imam Ahmad
ketika mendapatkan ucapan seperti itu beliau menjawab dengan ucapan yang
sama, namu beliau tidak pernah memulai memberi ucapan.
Kebanyakan
ulama mengatakan redaksi ucapan selamat ini tidak ada riwayat yang dapat
dijadikan landasan kuat. Menurut Syeh Athiyah, tujuan dari ucapan
selamat adalah mendatangkan kegembiraan dan doa kepada sesama muslim,
maka itu terkembali kepada niatnya. Masalah redaksinya bisa berbeda-beda
dan yang penting tujuannya, seperti disebutkan dalam sebuah hadis bahwa
Rasulullah saw ditanya “Apakah perkara yang lebih utama?” Beliau
menjawab “Mendatangkan kegembiraan kepada saudaramu mukmin” h.r.
Thabrani dll.
Dalam perkembangannya ucapan selama Idul Fitri ini
juga beda-beda, ada yang menambahi dengan ungkaran “Ied Mubarak”, ada
juga yang menggunakan bahasa lokal. Hal serupa juga di negeri kita,
tradisi mengucapkan selama Ied diucapkan dengan tambahan “Minal Aidin
wal Faizin” yang artinya semoga kalian menjadi orang yang merayakan Id
dan menjadi orang yang kembali serta menjadi orang yang beruntung.
Tradisi
masyarakat kita juga dalam menyambut Idul Fitri adalah dengan saling
menyampaikan ungkapan meminta maaf “Mohon maaf lahir batin”. Tradisi ini
tidak dimiliki oleh masyarakat lain. Saling meminta maaf merupakan
tindakan sangat terpuji, khususnya pada saat Idul Fitri dimana selama
sebulan penuh seorang muslim telah membersihkan dirinya dari
dosa-dosanya kepada Allah, maka di akhir Ramadhan tentu sangat baik jika
dia juga membersihkan dosa-dosanya dari sesama. Dalam sebuah hadist
riwayat Ubay bin Ka’b, Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa ingin
dibangunkan bangunan di sorga, diangkat derajatnya di dunia, maka
hendaklah dia memberi maaf orang yang mendzaliminya, memberi orang yang
menghalanginya dan menyambung kerabat orang-orang memutusnya” [h.r.
Hakim). Dalam riwayat Ibnu Abbas r.a. Rasulullah saw bersanda: “Pada
hari kiamat nanti, terdengarlah suara panggilah “Wahai orang yang suka
memaafkan, kemarilah kepada Tuhan kalian, ambillah pahala kalian, adalah
hak seorang muslim jika memaafkan saudaranya untuk masuk sorga” [Ibnu
Katsir dalam tafsirnya].
Maka ungkapan lengkap yang baik diucapkan sesuai tradisi kita dalam rangka merayakan Idul Fitri adalah sbb.:
Taqabalallaahu minna wa minka
Ied Mubarak
Kullu 'Aam wa antum bil KhairMinal Aidin wal Faizin
Mohon maaf lahir batin
bisa ditambah doa-doa lain yang bagus artinya.
Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bissowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar